oleh

Perjuangan Penderita Kanker di Tengah Pandemi

**Narik Cator Untuk Hidupi Isteri dan Kedua Anaknya

KOTA – Penyakit Kanker Nasofaring, tidak menyurutkan semangat Acim untuk mencari nafkah bagi keluarga tercinta.

Dengan menarik cator, Acim juga menaruh sebuah mimpi untuk bisa menyembuhkan penyakit yang telah dideritanya sejak 2020 awal. Apalagi, penyakitnya telah masuk stadium 4A.

Di lingkungannya yang berada di Karapyak Rt 04 Rw 08, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, Acim dikenal baik dan pekerja keras. Dengan segala kekurangannya, ia tidak pernah lepas tanggung jawab untuk istri dan kedua anaknya yang masih kecil.

Saat dikunjungi Sumeks, sang isteri Kokom menjelaskan, jika kondisi ekonomi keluarganya kini tengah terpuruk. Terlebih, hal tersebut semakin terasa saat pandemi wabah Covid-19 hadir di Kabupaten Sumedang.

“Waktu 2020 awal, suami saya panas tinggi, lalu bengkak di leher.  Saya menyangka itu hanya penyakit biasa. Sampai akhirnya tidak kunjung sembuh dan di bawa ke Puskesmas,” ujarnya.

Namun demikian, lanjut Kokom, setelah 4 kali berobat Acim terlihat tidak ada perubahan. Sampai akhirnya dirinya dirujuk ke RSUD Sumedang. 

“Waktu itu masih tetap tidak bisa diketahui penyakitnya. Akhirnya di rujuk ke RSHS pada bulan Februari. Setelah dibiopsi di RSHS, ternyata bapak sakit kanker Nasofaring stadium 4A,” terangnya.

Begitu mengetahui jenis penyakitnya, Kokom pun langsung terkejut. Apalagi setelah pihak RSHS menyampaikan jika suaminya harus melakukan kemoterapi.

Saat ini, Acim seharusnya melakukan kemoterapi ke 4. Akan tetapi, dikarenakan kondisinya yang belum memungkinkan, akhirnya terpaksa harus diundur. 

“Kemarin mau kemoterapi di RSHS, namun belum bisa dilakukan karena  trombosit dan leukosit sangat rendah. Jadi, diundur 2 minggu.  Sementara diberi obat dulu untuk meningkatkan trombosit dan leukositnya,” paparnya.

Saat ditanya terkait bantuan yang di dapat, Kokom menyebut jika keluarganya hanya mendapat bantuan dari PKH. Sedangkan untuk berobat, dirinya memiliki kartu BPJS.

“Bantuan PKH cairnya 3 bulan sekali,  sementara untuk sehari-hari saja tidak cukup. Kemarin saja bapak pulang hanya bawa uang Rp35.000 sementara gas habis, belum beli beras,” keluhnya.

Sedangkan untuk dapat meningkatkan trombosit dan leukositnya sendiri, kata Kokom, pihak dokter menyarankan agar Acim mengkonsumsi makanan-makanan tertentu. 

“Sekarang untuk meningkatkan trombosit dan leukosit harus banyak makan daging kambing, daging sapi, ikan gabus, dengan putih telur.  Sehari saja seharusnya 1 kg telur, juga harus istirahat yang cukup. Sementara jika tidak bekerja dari mana harus berobat, harus cari ongkos untuk ke Bandung dan untuk biaya sehari-hari,” terangnya.

Sementara itu, Kokom juga mengeluhkan besarnya ongkos pengobatan yang tidak dibiayai oleh BPJS. Hanya dengan sekali berangkat, dirinya harus mereguh kocek hingga ratusan ribu rupiah.

“Ya kalau pergi ke Bandung harus pegang uang sekitar Rp300 ribu. Itu untuk bensin, makan, juga bekal anak-anak di rumah. Belum lagi untuk obat yang tidak masuk ke BPJS.  Kadang ada yang tidak terduga seperti kemarin saja harus disuntik Rp250 ribu. Tapi karena tidak ada uang,  jadi tidak disuntik,” ungkapnya. 

Diketahui, dalam waktu satu bulan Acim harus melakukan pengobatan sebanyak 4 kali. Namun, berbeda saat kondisi sedang dalam keadaan parah yakni dalam 1 minggu mencapai 2 sampai 3 kali.

“Sekarang belum bisa kemo dulu. Karena berat badannya selalu turun dan tiap malam mengeluh kepala sakit. Kankernya juga sudah menjalar ke telinga sehingga pendengarannya berkurang, makan pun sudah tidak ada rasa,” tuturnya. (cr3)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed