oleh

Perumahan Dibangun Pada Tanah Miring



CIMANGGUNG- Bencana longsor yang menewaskan puluhan orang di Dusun Bojongkondang Desa Cihanjuang Kecamatan Cimanggung, disebut sebut kelalaian pengembang dan masalah izin yang menjadi penyebabnya. Disaat pembangunan pada 2017 silam, warga sekitar merasa tak dilibatkan masalah izin.

Salah seorang warga, Ustad Totoh Gojali mengatakan, sejak dibangun 2017 lalu, belum ada warga yang menandatangani izin perumahan Pondok Daud itu. Bahkan, warga tak tahu siapa saja yang bakal menghuni perumahan itu. Sebab, dari dibangun sampai saat ini, kebanyakan yang mengontrak.


“Dari awal saya sudah curiga, ini bakal berdampak pada warga sekitar. Bahkan pada tahun 2013 lalu, saya sempat berbicara di media dan menghawatirkan perumahan SBG yang posisinya berada di atas bukit, bakal longsor. Terbukti sekarang ketika ada pembangunan di bawahnya,” katanya.

Totoh menjelaskan, perumahan itu dibangun diatas tanah yang miring dan dititik lokasi sumber air (mata air). Sehingga, tak heran jika longsor kemarin disertai lumpur. Selain itu, tanahnya labil dan tidak ada pohon pohon keras.

“Coba tanyakan siapa yang mengeluarkan izin perumahan itu. Kalau warga katanya ada yang ditulis tonggong, makanya izinnya patut dipertanyakan,” katanya.

Menurut Totoh, penghuni perumahan itu pun mayoritas bukan warga asli pribumi melainkan warga pendatang bersuku Sihombing. Bahkan, developernya/marketingnya pun warga pendatang.

Warga lain, Berri Belfia mengatakan jika perumahan yang berjumlah 14 itu dihuni oleh karyawan pabrik. Setiap sabtu minggu, penghuninya pulang ke Bandung. Sementara yang jadi korban merupakan keluarga pengembang.

“Gak kebayang kalau longsor pas hari kerja, mungkin akan lebih banyak korban lagi,” katanya.

Beri pun sama, tak mengetahui masalah izin perumahan tersebut. Menurutnya, ketika pembangunan, pengembang minim komunikasi dengan warga sekitar. Bahkan, karyawan bangunan pun didatangkan dari warga luar.

“Kami mohon tindak tegas pengembang nakal itu. Karena yang jadi korban warga asli pribumi. Rumah saya dan orang tua juga hancur, padahal posisinya berada di bawah atau di pinggir jalan. Sekarang terpaksa harus relokasi karena masuk zona merah,” tandasnya. (Imn) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed